Analisis Kasus

Family Four – The Danzigs

Review Kasus

Sarah adalah wanita berusia 23 tahun. Keanehan yang terjadi pada dirinya berlangsung mulai dari usia 17 dan terus berkembang hingga usianya saat ini. Pada awal usia 17 tahun, dia menghabiskan sepanjang harinya di tempat tidur dan hanya bangun pada malam hari untuk membaca alkitab. Pada usia 21 tahun dia sudah mulai mengeluarkan ide-ide yang aneh, misalnya pada saat melihat televisi ia merasa televisi tersebut memperhatikan dirinya. Sarah merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dengan adik laki-laki berusia 21 tahun dan adik perempuan berusia 15 tahun. Ayahnya berusia 56 tahun dan ibunya berusia 50 tahun. Disini terdapat perbedaan cara pandang antara Sarah dan orang tuanya (terutama ayah) mengenai apa yang Sarah lakukan.

Analisis Kasus

Sarah

Sarah merasakan bahwa dirinya diperlakukan dengan adanya penolakan dari keluarga (terutama dari ayahnya). Ia merasakan bahwa ayahnya memperlakukan kedua adiknya jauh lebih baik daripada perlakuan ayah terhadapnya. Apa yang Sarah lakukan sehari-hari, bagi dirinya merupakan suatu penyebab ayahnya melakukan penolakan tersebut. Padahal Sarah sendiri tidak mengetahui apa yang salah dengan perilaku tersebut dan apa yang menyebabkan perilaku itu muncul. Dalam pikirannya ayahnya selalu memperhatikan dirinya jika dia tidak memakai baju atau sedang nelfon, ayahnya juga suka membaca surat-surat yang dia miliki. Hingga pada akhirnya Sarah diputuskan untuk masuk Rumah Sakit Jiwa oleh kedua orang tuanya, Sarah tetap memiliki anggapan bahwa Ayah nya lah yang memiliki ide tersebut (yang ia anggap sebagai hal jahat karena membuat dirinya sebagai anak terbuang). Sarah cenderung bersikap paranoid dalam kesehariannya.

Orang tua

Menurut orang tua Sarah, Sarah saat ini memperlihatkan bahwa Sarah berperilaku aneh, agresif, dan memiliki kelainan. Namun, ayahnya selalu membantu Sarah untuk kembali kepada keadaan yang lebih baik, misalnya ayahnya mengajak dirinya untuk bekerja di kantornya dengan tujuan agar Sarah memiliki kegiatan. Sedangkan ibunya menganggap Sarah sebagai anak pengacau, seringkali melakukan perilaku aneh. Dengan pandangan ibu yang seperti itu, ibunya memutuskan untuk memasukan Sarah ke Rumah Sakit Jiwa.

Analisis Novel "GENESIS"

Judul Buku : Genesis
Pengarang : Ratih Kumala
Penerbit : Insist Press

Sinopsis
Pawestri, seorang gadis, dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat dalam agama. Pada usia 19 tahun ia terpikat dan jatuh cinta dengan seorang pemuda yang kemudian menghamilinya sebelum nikah dan pergi meninggalkannya begitu saja. Kenyataan ini menjadi semacam petir yang menghantam keluarga,sebuah aib yang sungguh tak dapat diterima. Problem kehamilannya tanpa suami membuat Pawestri dikutuk oleh ayahnya. Ia tidak diakui lagi sebagai anak, diusir dari rumah, dan dianggap tidak pernah ada dalam keluarga. Sementara ibunya yang tunduk pada otoritas suami hanya dapat diam menahan pedih, tak dapat berbuat apa-apa dengan sikap keras suaminya. Namun kepergian Pawestri perlahan membuat ibunya merasa kehilangan,yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Luka karena kehilangan dan tekanan-tekanan suami membuat ibu Pawestri mulai terganggu kesehatan jiwanya. Ia tak waras lagi dan setiap hari bertingkah laku aneh, berlaku seolah-olah Pawestri ada. Akhirnya ia dibawa ke Rumah Sakit jiwa.

Setelah diusir dari rumah Pawestri bergulat sendiri menyelesaikan persoalannya dengan tinggal sementara di sebuah Kost. Ia kemudian memutuskan untuk memasang iklan, mencari, sekiranya ada seorang perempuan yang dengan ikhlas mau merelakan rahimnya menjadi tempat tinggal bagi jabang bayinya. Kebetulan sekali ada seoang perempuan muda yang telah menikah namun takut berhubungan seks dengan suaminya. Diam-diam ia menawarkan diri menyediakan rahimnya bagi janin Pawestri dan siap untuk melahirkannya. Perempuan itu adalah Sawitri. Atas bantuan seorang dukun ternama,pemindahan janin itu berhasil dilakukan. Pada saatnya Sawitri melahirkan anak laki-laki yang dibri nama Noah, seorang anak yang bukan dari indung telunya sendiri.

Setelah janin lepas dari rahimnya Pawestri berhadapan dengan pergolakan untuk menentukan pilihan hidupnya. Demi mengurangi rasa bersalahnya ia siap mempersembahkan hidup bagi Tuhan saja. Melalui perjuangan yang panjang ia akhirnya dapat diterima sebagai biarawati (suster) pada sebuah tarekat. Setelah beberapa tahun berkaul ia diutus ke Ambon dengan mengenakan nama kebiaraan ”Sr. Maria Faustina”.

Di Ambon dia malah berhadapan dengan resiko hidup-mati oleh karena kerusuhan berbau agama (Islam vs Kristen). Status dan penampilannya yang sangat jelas menunjukkan identitas dirinya sebenarnya sangat membahayakan dia dalam suasana kerusuhan itu. Namun ia nekad dan tak terganggu oleh perasaan takut. Sebuah godaan besar yang timbul oleh karena rasa kesepian dan kedekatan dengan seorang Pastor pun akhirnya dapat dikalahkannya melalui sebuah pergulatan panjang.

Suatu ketika pada remang-remang sore menjelang malam terjadi penyerbuan oleh orang-orang Kristen terhadap perkampungan Muslim yang terletak jauh di pesisir utara Ambon. Suster Faustina memberanikan diri untuk menyusul ke tempat itu hendak meredahkan amarah para penyerbu. Namun di sana ia hanya dapat terbelalak, ngeri meyaksikan adegan pembantaian terhadap orang-orang muslim. Dia menjadi saksi mata dari peristiwa naas itu dan hanya berhasil menyelamatkan seorang bocah yang kehilangan segalanya. Setelah kejadian itu ia tak segera kembali ke biaranya di Ambon yang berjauhan dengan tempat kejadian. Sepanjang malam ia hanya bersama si bocah dalam kesunyian yang mencekam. Keesokan harinya saat berjalan menyusuri pantai, ia berjumpa dengan Kapal Motor”Srigunting”yang membawa bantuan medis untuk korban kerusuhan tersebut. Sr. Faustina memohon agar diantarkan ke Ambon, dan para kru Srigunting bersedia dengan syarat ia harus bersama-sama mereka dalam pelayanan medis untuk beberapa hari berikutnya. Menjadi sukarelawan di Zona Putih (sebutan untuk wilayah Acang/Muslim) menuntut Sr. Faustina untuk sementara melepaskan busana dan identitas kebiaraannya demi keamanan dirinya. Ia harus menempatkan dirinya sebagai pihak netral. Dengan kejadian pembantaian tersebut timbul berbagai pertanyaan dan pergolakan dalam batinnya yang sampai menghantarnya pada pertanyaan esensial…di manakah Tuhan…, mengapa dia membiarkan kejahatan terjadi?

Hari pertama setelah kembali ke Ambon, Sr. Faustina kedatangan pihak keamanan dan membawanya ke Kepolisian. Katanya ia akan dijadikan saksi dari pembantaian beberapa waktu lalu. Namun kenyataan selanjutnya tidak demikian. Ia dijebloskan ke dalam sebuah ruangan tertutup tanpa tahu di mana persisnya letak tempat itu dan tidak juga tahu apa yang dikehendaki dari dirinya. Hari demi hari ia diinjeksi dengan cairan penenang”Pentobarbital”, yang sekaligus membunuhnya secara pertlahan-lahan. Pemberontakan dirinya untuk dibebaskan sama sekali tidak berarti apa-apa. Bahkan pada akhirnya tanpa sadar tubuhnya dihanyutkan ke laut dan terdampar di pantai. Ia ditemukan oleh awak kapal Srigunting yang pernah bersama-sama dengan dia dalam misi ke White Zone, dalam kondisi koma. Dia menjadi korban politik, penghilangan jejak saksi demi kepentingan golongan tertentu? Oleh Kru Srigunting yang dominan atheis, diadakan voting untuk menentukan ajal Pawestri (Sr.Faustina). Euthanasia lewat injeksi cairan akan dilaksanakan untuk mengakhiri penderitaan dan hidup Pawestri. Terakhir, tubuhnya dibuang ke laut. Pawestri telah mati dengan cara yang tak manusiawi. Namun, pada pergulatan akhir sebelum ajal ia mencoba menerima dan memaknai kematiannya secara positif.

Analisis
Permasalahan yang terjadi pada Pawestri di sini adalah masalah pergulatan dalam dirinya. Pawestri menilai dirinya sendiri sebagai seseorang yang penuh dosa karena kesalahannya yang telah melakukan kesalahan besar yaitu hamil di luar nikah, dan kemudian anaknya sebelum lahir pun diberikan pada orang lain. Dalam kondisi demikian, masalah lain yang muncul adalah masalah di keluarga, sang ayah merasa sangat kecewa dan tidak ingin menganggap dirinya sebagai anak. Hal itu semakin membuat Pawestri semakin merasa bersalah dan berdosa telah mengecewakan orang tuanya. Tumbuhnya kesadaran Pawestri ini menghantar dia menuju pencerahan diri. Ia membutuhkan kebebasan untuk menentukan dan menjalani hidupnya sendiri, tanpa harus bergantung atau takluk pada otoritas keluarga. Menerima kenyataan bahwa ia diusir dari rumah keluarga adalah sikap yang paling tepat, di mana ia dapat mengaktualisasikan dirinya secara lebih bebas dalam kehidupan yang baru.

Karena perasaan bersalah dan berdosa tersebut, Pawestri menganggap bahwa dirinya perlu melakukan sesuatu untuk menebus dosa-dosanya. Akhirnya, Pawestri pun mengambil keputusan untuk melayani Tuhan secara penuh dengan menjadi seorang biarawati demi menebus dosa yang telah dia lakukan. Fakta bahwa ia menjadi saksi dari peristiwa pembantaian menghantar dia menuju sebuah ruangan gelap, tertutup. Nyawanya dihabisi secara perlahan-lahan dengan injeksi cairan penenang dan dibuang ke laut untuk menghilangkan jejaknya. Saat menjelang kematiannya, Pawestri sempat berkata ”Jika aku pergi menuju inkarnasiku esok hari, maka buatlah cepat. Aku ingin menjadi Amba yang menceburkan diri ke dalam api agar bisa lahir kembali sebagai Srikandi yang memanah mati Bhisma”. Hal tersebut menggambarkan keikhlasannya dalam menghadapi kematian.

Pawestri telah berjuang untuk memilih, memutuskan dan memaknai kehidupannya secara bebas hingga akhir hidupnya. Ia telah bebas membentuk dirinya seturut apa yang dicita-citakannya, ia telah bebas merealisasikan dirinya dalam panggilan hidupnya, bebas mengekspresikan dirinya dalam seluruh tindakannya. Bahkan lebih jauh ia telah bebas memaknai kematiannya untuk menerimanya sebagai kelanjutan dari hidup. Pawestri telah menggapai eksistensinya sebagai manusia-perempuan yang bebas.
Analisis Film "AVATAR"


Sinopsis :

Film Avatar mengisahkan tentang Jake Sully (Sam Worthington), mantan angkatan laut Amerika yang terluka dan cacat akibat perang. Ia menggantikan saudara kembarnya untuk berpartisipasi dalam program Avatar, yang memungkinkannya bisa berjalan kembali. Jack menuju Pandora, sebuah hutan nan subur yang penuh dengan berbagai macam makhluk hidup, sebagian indah dan sebagian lagi menakutkan. Pandora juga rumah bagi suku Na’vi, makhluk yang mirip manusia dengan kehidupan primitif serta memiliki kemampuan seperti manusia.

Saat manusia mencoba memasuki Pandora untuk meneliti kandungan mineral yang ada disana, suku Na’vi memerintahkan para prajuritnya untuk melindungi negerinya dari ancaman. Jake direkrut untuk menjadi bagian dari proyek ini. Karena manusia tidak dapat menghirup udara di negeri Pandora, maka mereka menciptakan makhluk mirip suku Na’vi yang mereka sebut sebagai Avatar. Di Pandora, dengan tubuh Avatar, Jake dapat berjalan kembali. Di hutan Pandora, Jake melihat banyak keindahan dan bahaya. Ia juga bertemu dengan wanita muda Na’vi bernama Neytiri (Zoe Saldaña).

Berjalannya waktu, Jake berbaur dengan suku Na’vi dan jatuh cinta kepada Neytiri. Pada akhirnya, Jake terjepit antara tujuannya dikirim oleh militer ke Pandora dan suku Na’vi, memaksanya untuk memilih pada satu pilihan yang menentukan kelanjutan hidupnya apakah sebagai marinir yang lumpuh, atau sebagai bagian dari suku Na'vi.

Analisis :
Jack ditugaskan oleh atasannya untuk memata - matai dengan mencari kelemahan Suku Na'vi yang tujuannya adalah menyerang suku tersebut apabila usaha diplomatis gagal. sebagai seorang marinir, ia menjalankan tugas yang diberikan kepada dirinya. pertremuan dengan Neytiri dimanfaatkan oleh Jack untuk memata - matai suku Na'vi dengan dalih ingin belajar bagaimana menjadi seorang Na'vi. dengan berjalannya waktu, semakin sering nya dia bersama dengan Neytiri dan suku Na'vi lainnya, Jack mulai mempelajari makna hidup yang menyebabkan hingga pada ahirnya Jack beralih tujuan, yang tadi nya memata - matai suku Na'vi menjadi membela suku Na'vi.
Makna hiidup tersebut ia dapatkan ketika ia menyadari bahwa suku Na'vi patut untuk dilindungi karena Jack menganggap bahwa suku tersebut hidup karena alamnya yang mereka tempati. apabila alam yang mereka tempati tesebut dibiarkan hancur karena misi manusia, maka suku Na'vi akan hancur. hal ini dipengaruhi juga oleh hubungan Jack dengan Neytiri yang semakin dekat seiring berjalannya waktu. selain itu juga relasi Jack dengan dokter (yang membuat Jack menjadi avatar) menguatkan keputusan Jack yang beralih tujuan (dari menjadi mata - mata hingga membela Suku Na'vi). Dokter juga menyadari bahwa alam tersebut patut dilindungi dan pada dasar nya sejak awal, dokter tersebut memiliki misi yang berbeda dengan militer Amerika. dimana misi dokter tersebut hanya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Søren Aabye Kierkegaard
Søren Aabye Kierkegaard


Nama : Søren Aabye Kierkegaard
Tempat Tanggal Lahir : Kopenhagen, Denmark, 5 Mei 1813
Meninggal : Kopenhagen, Denmark, 11 November 1855
Aliran / Tradisi : Filsafat Eropa, Zaman keemasan tradisi sastra dan seni, pendahulu dari Eksistensialisme, Pasca-modernisme, Pasca-strukturalisme, Psikologi Eksistensial, Neo Ortodoksi, dsb.
Minat Utama : Agama, Metafisika, Epistemologi, Estetika, Etika, Psikologi
Dipengaruhi Oleh : Hegel, Abraham, Luther, Kant, Hamann, Lessing, Socrates (melalui Plato, Xenophon, Aristophanes)
Mempengaruhi : Jaspers, Wittgenstein, Heidegger, Sartre, Marcel, Buber, Tillich, Barth, Auden, Camus, Kafka, de Beauvoir, May, Updike, dsb.


Søren Aabye Kierkegaard (lahir di Kopenhagen, Denmark, 5 Mei 1813 – meninggal di Kopenhagen, Denmark, 11 November 1855 pada umur 42 tahun) adalah seorang filsuf dan teolog abad ke-19 yang berasal dari Denmark. Kierkegaard sendiri melihat dirinya sebagai seseorang yang religius dan seorang anti-filsuf, tetapi sekarang ia dianggap sebagai bapaknya filsafat eksistensialisme. Kierkegaard menjembatani jurang yang ada antara filsafat Hegelian dan apa yang kemudian menjadi Eksistensialisme. Kierkegaard terutama adalah seorang kritikus Hegel pada masanya dan apa yang dilihatnya sebagai formalitas hampa dari Gereja Denmark. Filsafatnya merupakan sebuah reaksi terhadap dialektik Hegel.

Banyak dari karya-karya Kierkegaard membahas masalah-masalah agama seperti misalnya hakikat iman, lembaga Gereja Kristen, etika dan teologi Kristen, dan emosi serta perasaan individu ketika diperhadapkan dengan pilihan-pilihan eksistensial. Karena itu, karya Kierkegaard kadang-kadang digambarkan sebagai eksistensialisme Kristen dan psikologi eksistensial. Karena ia menulis kebanyakan karya awalnya dengan menggunakan berbagai nama samaran, yang seringkali mengomentari dan mengkritik karya-karyanya yang lain yang ditulis dengan menggunakan nama samaran lain, sangatlah sulit untuk membedakan antara apa yang benar-benar diyakini oleh Kierkegaard dengan apa yang dikemukakannya sebagai argumen dari posisi seorang pseudo-pengarang. Ludwig Wittgenstein berpendapat bahwa Kierkegaard "sejauh ini, adalah pemikir yang paling mendalam dari abad ke-19.

Tahun-tahun Awal Kehidupan (1813–1841)

Søren Kierkegaard dilahirkan dalam sebuah keluarga kaya di Kopenhagen, ibukota Denmark. Ayahnya, Michael Pedersen Kierkegaard, adalah seseorang yang sangat saleh. Ia yakin bahwa ia telah dikutuk Tuhan, dan karena itu ia percaya bahwa tak satupun dari anak-anaknya akan mencapai umur melebihi usia Yesus Kristus, yaitu 33 tahun. Ia percaya bahwa dosa-dosa pribadinya, seperti misalnya mengutuki nama Allah di masa mudanya dan kemungkinan juga menghamili ibu Kierkegaard di luar nikah, menyebabkan ia layak menerima hukuman ini. Meskipun banyak dari ketujuh anaknya meninggal dalam usia muda, ramalannya tidak terbukti ketika dua dari mereka melewati usia ini. Perkenalan dengan pemahaman tentang dosa di masa mudanya, dan hubungannya dari ayah dan anak meletakkan dasar bagi banyak karya Kierkegaard (khususnya Takut dan Gentar). Ibunda Kierkegaard, Anne Sørensdatter Lund Kierkegaard, tidak secara langsung dirujuk dalam buku-bukunya, meskipun ia pun mempengaruhi tulisan-tulisannya di kemudian hari. Meskipun sifat ayahnya kadang-kadang melankolis dari segi keagamaan, Kierkegaard mempunyai hubungan yang erat dengan ayahnya. Ia belajar untuk memanfaatkan ranah imajinasinya melalui serangkaian latihan dan permainan yang mereka mainkan bersama.

Ayah Kierkegaard meninggal dunia pada 9 Agustus 1838 pada usia 82 tahun. Sebelum meninggal dunia, ia meminta Søren agar menjadi pendeta. Søren sangat terpengaruh oleh pengalaman keagamaan dan kehiudpan ayahnya dan merasa terbeban untuk memenuhi kehendaknya.

Kierkegaard masuk ke Sekolah Kebajikan Warga, memperoleh nilai yang sangat baik dalam bahasa Latin dan sejarah. Ia melanjutkan pelajarannya dalam bidang teologi di Universitas Kopenhagen, namun sementara di sana ia semakin tertarik akan filsafat dan literatur. Di universitas, Kierkegaard menulis disertasinya, Tentang Konsep Ironi dengan Rujukan Terus-Menerus kepada Socrates, yang oleh panel universitas dianggap sebagai karya yang penting dan dipikirkan dengan baik, namun agak terlalu berbunga-bunga dan bersifat sastrawi untuk menjadi sebuah tesis filsafat. Kierkegaard lulus pada 20 Oktober 1841 dengan gelar Magistri Artium, yang kini setara dengan Ph.D. Dengan warisan keluarganya, Kierkegaard dapat membiayai pendidikannya, ongkos hidupnya dan beberapa penerbitan karyanya.

Regine Olsen (1837–1841)



Sebuah aspek penting dari kehidupan Kierkegaard (biasanya dianggap mempunyai pengaruh besar dalam karyanya) adalah pertunangannya yang putus dengan Regine Olsen (1822 - 1904). Kierkegaard berjumpa dengan Regine pada 8 Mei 1837 dan segera tertarik kepadanya. Begitu pula dengan Regine. Dalam jurnal-jurnalnya, Kierkegaard menulis tentang cintanya kepada Regine:
Engkau ratu hatiku yang tersimpan di lubuk hatiku yang terdalam, dalam kepenuhan pikiranku, di sana ... ilahi yang tak dikenal! Oh, dapatkah aku sungguh-sungguh mempercayai dongeng-dongeng si penyair, bahwa ketika seseorang melihat sebuah obyek cintanya, ia membayangkan bahwa ia sudah pernah melihatnya dahulu kala, bahwa semua cinta seperti halnya semua pengetahuan adalah kenangan semata, bahwa cinta pun mempunyai nubuat-nubuatnya di dalam diri pribadi. ... tampaknya bagiku bahwa aku harus memiliki kecantikan dari semua gadis agar dapat menandingi kecantikanmu; bahwa aku harus mengelilingi dunia untuk menemukan tempat yang tidak kumiliki dan yang merupakan misteri terdalam dari keseluruhan keberadaanku yang mengarah ke depan, dan pada saat berikutnya engkau begitu dekat kepadaku, mengisi jiwaku dengan begitu dahsyat sehingga aku berubah (transfigured) bagi diriku sendiri, dan merasakan sungguh nikmat berada di sini. —Søren Kierkegaard, Journals, 2 Februari 1839.
Pada 8 September 1840, Kierkegaard resmi meminang Regine. Namun, Kierkegaard segera merasa kecewa dan melankolis tentang pernikahan. Kurang dari setahun setelah pinangannya, ia bercerai pada 11 Agustus 1841. Dalam jurnal-jurnalnya, Kierkegaard menyebutkan keyakinannya bahwa sifat "melankolis"nya membuatnya tidak cocok untuk menikah, tetapi motif sebenarnya untuk memutuskan pertunangannya itu tetap tidak jelas. Biasanya diyakini bahwa keduanya memang sangat saling mencintai, barangkali bahkan juga setelah Regine menikah dengan Johan Frederik Schlegel (1817–1896), seorang pegawai negeri terkemuka. Pada umumnya hubungan mereka terbatas pada pertemuan-pertemuan kebetulan di jalan-jalan di Kopenhagen. Namun, beberapa tahun kemudian, Kierkegaard bahkan sampai meminta izin suami Regine untuk berbicara dengan Regine, namun Schlegel menolak.

Tak lama kemudian, pasangan itu berangkat meninggalkan Denmark, karena Schlegel telah diangkat menjadi Gubernur di Hindia Barat Denmark. Pada saat Regine kembali ke Denmark, Kierkegaard telah meninggal dunia. Regine Schlegel hidup hingga 1904, dan pada saat kematiannya, ia dikuburkan dekat Kierkegaard di Pemakaman Assistens di Kopenhagen.

Pemikiran

Pemikiran Kierkegaard, sebagai kritik atas Hegel, menekankan pada aspek subjektivisme. Mengingat seluruhnya pada dasarnya adalah manifestasi dari apa yang disebut Hegel sebagai fenomenologi roh maka individu manusia direduksi menjadi kawanan. Hal ini akan melenyapkan individu dari tanggung jawab pribadinya secara etis bahkan juga melenyapkan eksistensi individu di dalam kerumunan kawanan. Penekanan pada eksistensi individu inilah yang menjadikan Kierkegaard dianggap sebagai bapak eksistensialisme yang dipopulerkan oleh Sartre kelak.

Pemikiran lain yang menarik adalah sebuah dialektika eksistensialis yang menggambarkan perkembangan religiusitas manusia dari apa yang disebutnya tahap estetis, tahap etis, hingga tahapan religius. Tahap pertama adalah tahap estetis yaitu ketika manusia bereksistensi berdasarkan prinsip kesenangan indrawi, sebagaimana arti kata estetis yang bermakna mengindra. Tokoh dalam peradaban barat yang menjadi contoh adalah Don Juan yang memburu kesenangan. Tahapan kedua dicapai dengan satu lompatan menuju tahap dimana manusia bereksistensi dengan pertimbangan moral universal dalam kerangka benar dan salah. Tokoh yang dapat dijadikan contoh adalah Socrates yang mengorbankan dirinya demi prinsip moral universal. Tahap terakhir adalah tahap keimanan puncak yang tidak dapat dinilai dengan penilaian moral universal namun menemui sifat paradoks keimanan. Tokoh yang dijadikan teladan adalah Ibrahim (atau Abraham) dalam kisah penyembelihan anaknya (Ishak dalam agama Kristen dan Ismail dalam agama Islam) yang tindakannya tersebut, sebagai manifestasi dari keimanannya, tidak dapat dinilai dengan penilaian moral universal. Sebuah tindakan yang mengandung dasar paradoks karena di satu sisi Ibrahim menyerahkan diri sepenuhnya, dan kehilangan segala-galanya, dengan gerakan imannya dan di sisi lain, secara bersamaan, dia mendapatkan segalanya dengan cara yang baru. Sebuah kegilaan ilahi sesuatu yang tidak dikutuk tapi justru dianjurkan oleh Kierkegaard, yang akan tampak absurd apabila dimasukkan ke dalam kategori moral universal.

Pengaruh dan Penerimaan

Karya-karya Kierkegaard baru tersedia luas beberapa dasawarsa setelah kematiannya. Pada tahun-tahun segera setelah meninggalnya, Gereja Negara Denmark, sebuah institusi penting di Denmark pada saat itu, menjauhi karya-karyanya dan menganjurkan orang-orang Denmark lainnya untuk melakukan hal yang sama. Selain itu, kurang dikenalnya bahasa Denmark, dibandingkan dengan bahasa Jerman, Perancis, dan Inggris, membuat hampir tidak mungkin bagi Kierkegaard untuk mendapatkan pembaca-pembaca non-Denmark.

Akademikus pertama yang mengarahkan perhatian kepada Kierkegaard adalah sesama orang Denmark Georg Brandes, yang menerbitkan dalam bahasa Jerman maupun Denmark. Brandes menyampaikan kuliah resminya yang pertama tentang Kierkegaard dan menolong memperkenalkan Kierkegaard ke seluruh Eropa. Pada 1877, Brandes juga menerbitkan buku pertama tentang filsafat dan kehidupan Kierkegaard. Dramatis Henrik Ibsen menjadi tertarik terhadap Kierkegaard dan memperkenalkan karyanya ke seluruh Skandinavia. Sementara terjemahan-terjemahan independen dalam bahasa Jerman dari beberapa karya Kierkegaard mulai muncul pada 1870-an, terjemahan-terjemahan akademis dalam bahasa Jerman dari seluruh karya Kierkegaard harus menunggu hingga 1910-an. Terjemahan-terjemahan ini dimungkinkan karena pengaruh Kierkegaard terhadap para pemikir dan penulis Jerman, Perancis, dan Inggris abad ke-20 mulai terasa.

Pada 1930-an, terjemahan akademis pertama dalam bahasa Inggris, oleh Alexander Dru, David F. Swenson, Douglas V. Steere, dan Walter Lowrie muncul, di bawah usaha editorial dari editor Oxford University Press, Charles Williams. Terjemahan akademis yang kedua dalam bahasa Inggris dan yang terdapat luas diterbitkan oleh Princeton University Press pada 1970-an, 1980-an, 1990-an, di bawah pengawasan Howard V. Hong dan Edna H. Hong. Terjemahan resmi ketiga, di bawah pengawasan Pusat Penelitian Søren Kierkegaard, akan mencapai 55 jilid dan diharapkan akan selesai setelah 2009.

Banyak filsuf abad ke-20, baik yang teistik maupun yang ateistik, meminjam banyak konsep dari Kierkegaard, termasuk pemahaman tentang angst (kecemasan), keputusasaan, serta pentingnya individu. Sebagai seorang filsuf ia menjadi sangat termasyhur pada tahun 1930-an, sebagian besar karena naik daunnya gerakan eksistensialis yang menunjuk kepadanya sebagai seorang pendahulu, meskipun kini ia sendiri dipandang sebagai seorang pemikir yang sangat penting dan berpengaruh. Para filsuf dan teolog yang dipengaruhi oleh Kierkegaard termasuk Karl Barth, Simone de Beauvoir, Martin Buber, Rudolf Bultmann, Albert Camus, Martin Heidegger, Abraham Joshua Heschel, Karl Jaspers, Gabriel Marcel, Maurice Merleau-Ponty, Franz Rosenzweig, Jean-Paul Sartre, Joseph Soloveitchik, Paul Tillich, Miguel de Unamuno, Hans Urs von Balthasar. Anarkisme ilmiah Paul Feyerabend diilhami oleh gagasan Kierkegaard tentang subyektivitas sebagai kebenaran. Ludwig Wittgenstein sangat dipengaruhi dan harus mengakui keunggulan Kierkegaard, dan mengklaim bahwa "Betapapun juga, Kierkegaard jauh terlalu dalam bagi saya. Karl Popper merujuk kepada Kierkegaard sebagai "pembaharu besar dalam etika Kristen, yang memaparkan moralitas Kristen yang resmi pada zamannya sebagai kemunafikan yang anti-Kristen dan anti-kemanusiaan".

Para filsuf kontemporer seperti Emmanuel Lévinas, Hans-Georg Gadamer, Jacques Derrida, Jürgen Habermas, Alasdair MacIntyre, dan Richard Rorty, meskipun kadang-kadang sangat kritis, juga telah mengadaptasi beberapa pemikiran Kierkegaard.

Kierkegaard banyak sekali mempengaruhi literatur abad ke-20. Tokoh-tokoh yang sangat dipengaruhi oleh karya-karyanya termasuk Walker Percy, W.H. Auden, Franz Kafka, David Lodge, dan John Updike.

Kierkegaard juga sangat berpengaruh terhadap psikologi dan ia daapt dianggap sebagai pendiri psikologi Kristen dan psikologi dan terapi eksistensial. Para psikolog dan terapis eksistensialis (seringkali disebut "humanistik") termasuk Ludwig Binswanger, Victor Frankl, Erich Fromm, Carl Rogers, dan Rollo May. May mendasarkan bukunya The Meaning of Anxiety (Makna Kecemasan) pada karya Kierkegaard Konsep tentang Kecemasan. Karya sosiologis Kierkegaard Dua Zaman: Zaman Revolusi dan Masa Kini memberikan kritik yang menarik terhadap modernitas. Kierkegaard juga dilihat sebagai pendahulu penting dari pasca-modernisme.

Kierkegaard meramalkan bahwa setelah kematiannya ia akan terkenal, dan membayangkan bahwa karyanya akan dipelajari dan diteliti dengan intensif. Dalam jurnal-jurnalnya, ia menulis:

Apa yang dibutuhkan zaman ini bukanlah seorang jenius sebab jenius sudah cukup banyak. Yang dibutuhkan adalah martir, yang rela taat hingga mati untuk mengajarkan manusia agar taat hingga mati. Apa yang dibutuhkan zaman ini adalah kebangkitan. Dan karena itu suatu hari kelak, bukan hanya tulisan-tulisan saya tetapi juga seluruh hidup saya, seluruh misteri yang membangkitkan tanda tanya tentang mesin ini akan dipelajari dan dipelajari terus. Saya tidak akan pernah melupakan bagaimana Tuhan menolong saya dan karena itu adalah harapan saya terakhir bahwa segala sesuatunya adalah untuk kemuliaan-Nya

—Søren Kierkegaard, Journals, 20 November 1847
Sumber : www.wikipedia.org
Welcome to our blog!
Blog ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisis Eksistensial kelas A Psikologi Universitas Islam Bandung, dengan dosen kang Hendro Prakoso.

1. Fitriani (10050007012)
2. Irla Rahmaiasa (10050007016)
3. Lianda Marta (10050007020)
4. Miki Amrilya (10050007029)
5. Sri Surtini Mulyani (10050007017)

Selamat Menikmati!! :D